• Cougar

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Lions

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Snowalker

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Howling

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Sunbathing

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

Category: Penelitian/Pengabdian Masyarakat

Penguatan Ketahanan Pangan Nasional Melalui Optimalisasi Budidaya Padi di Lahan Pesisir dengan Metode SRI “Jejer Kalenan”

whatsapp-image-2016-11-17-at-155218

whatsapp-image-2016-11-17-at-0124123

whatsapp-image-2016-11-17-at-1547581

Ketua : Dr. Ir. Minar Ferichani, MP
Skim : Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) Tahun ke-2
Sumber Dana : DIKTI
Lama Penelitian : 3 Tahun

ABSTRAK

Peningkatan ketahanan pangan padi melalui optimalisasi potensi sumberdaya di kawasan pesisir merupakan strategi yang menjunjung tinggi karakter Indonesia sebagai negara kepulauan. Potensi ekologis dan demografis di wilayah pesisir di antaranya adalah hinterland of mangrove forests. Melalui modifikasi metode System of Rice Intensification (SRI) menjadi SRI jejer kalenan merupakan program tahun I yang dilaksanakan di hinterland Hutan Mangrove Laguna Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Fokus utama penelitian di tahun I adalah adaptasi SRI jejer kalenan di lahan tadah hujan (rain-fed) dataran rendah di hinterland hutan mangrove dengan tambahan percobaan (trial) di lahan tergenang air asin sebagai persiapan program tahun II.  Hasil metode SRI yang pernah dilakukan ketua peneliti di dataran rendah Kabupaten Bantul menunjukkan R/C ratio sebesar 4,8; sementara metode konvensional sbesar 3,16.  Pengembangan metode SRI dengan memperkenalkan inovasi berupa SRI jejer kalenan memiliki potensi untuk pengembangan penelitian lebih lanjut agar diperoleh hasil yang mantap dengan tujuan jangka panjang untuk mengoptimalisasi potensi lahan pesisir guna mendukung dan mencapai ketahanan dan keamanan pangan lokal dan juga nasional.  Tujuan khusus penelitian terapan ini adalah meningkatkan ketahanan pangan lokal di hinterland hutan mangrove melalui budidaya padi dengan metode SRI jejer kalenan.

Penelitian tahun II tidak hanya berfokus di lahan tadah hujan dataran rendah hinterland Hutan Mangrove Laguna Segara Anakan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, namun juga berfokus di  lahan tergenang pasang surut air asin dan lahan tadah hujan di lereng perbukitan Nusakambangan. Metode dasar dalam penelitian tahun II adalah action research yang berfungsi untuk melihat secara nyata efektifitas dan potensi penerapan suatu inovasi di lapangan. Penelitian melibatkan petani-petani lokal yang tergabung dalam Kelompok Tani Sidomuncul, Kelompok Tani Gragalan Mataram dan juga mitra pemberdaya dan industri dari Lembaga Joglo Minar Tani, Yogyakarta.  Metode analisis menggunakan metode komparasi untuk melihat komparasi pengembangan metode SRI jejer kalenan dan konvensional (kontrol). Untuk mendukung kelancaran penelitian dan difusi jangka panjang dan lebih luas lagi pascaprogram, penelitian didukung beberapa kegiatan seperti pengadaan sarana pengairan, perbaikan agroekosistem, Sekolah Lapangan, Focus Group Discussion, dan uji laboratorium. Metode komparasi pada tahun II meliputi analisis ekonomi dan fisiologi tanaman padi (jumlah anakan dan jumlah biji padi per rumpun), sedangkan terkait dengan pengembangan metode SRI jejer kalenan, analisis juga meliputi analisis sosial yang meliputi pengetahuan, adopsi, dan motivasi.  Alat analisis yang digunakan meliputi regresi linier berganda, chi square, skala likert, dan uji proporsi. Analisis ekonomi meliputi pengukuran terhadap biaya, penerimaan, pendapatan, efisiensi produksi, dan R/C rasio.

Kata kunci: System of Rice Intensification, hinterland,  R/C rasio, adopsi, motivasi

Pengaruh Nilai Ekonomi Modal Sosial bagi Kelompok Tani Sabuk Hijau di Tepian Waduk Kedung Ombo terhadap Sikap Kemandiriannya dalam Mengelola Lahan Sabuk Hijau

p_20160521_114739-copy1 p_20160521_114920-copy
Ketua : Dr. Sutopo, MS
Skim : Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) Tahun ke-2
Sumber Dana : DIKTI
Lama Penelitian : 2 Tahun

ABSTRAK

Pengelolaan sabuk hijau di sekitar kawasan waduk berdasarkan suatu pemikiran bahwapengembangan suatu daerah merupakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidupagar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan keserasian, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Usaha ke arah itu didasarkan kepada suatu wawasan wilayah yang berorientasi pada pengembangan potensi, mempertimbangkan kemampuan aparatur pemerintah dan lembaga kemasyarakatan yang ada, serta menumbuhkan peranserta masyarakat dalam pembangunan di berbagai sektor.

Sejak dahulu sampai saat ini sabuk hijau di sekitar Waduk Kedung Ombo itu telah dikelola oleh kelompok-kelompok tani pengelola sabuk hijau, yang tentu harus didampingi oleh para penyuluh pertanian, dan dari DPU serta LSM dan kalangan perguruan tinggi Pengelolaan sabuk hijau di sekitar kawasan waduk agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dengan tetap memperhatikan keserasian, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Untuk tercapainya pembangunan waduk tersebut, diperlukan peranserta masyarakat yang tinggi dan berkelanjutan khususnya masyarakat di sekitar, yaitu masyarakat yang tinggal di dataran yang lebih tinggi di lingkungan waduk. Oleh pemerintah daerah dan para stakeholder pengelola waduk tersebut akhirnya membentuk kelompok tani pengelola waduk. Mengingat sejarah penggenangan waduk Kedung Ombo banyak masalah, akhirnya pemerintah daerah dan berbagai pihak banyak yang membantu sarana dan prasarana, sehingga para anggota kelompok tani tersebut seperti manja dalam mengelola lahan sabuk hijau. Namun ada kecenderungan kegiatan ekonomi para kelompok tani saat ini belum banyak mengalami perubahan utamanya dalam kesejahteraannya. Salah satu potensi sosial budaya tersebut adalah modal sosial. Secara sederhana modal sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir diri sendiri dalam memperjuangkan tujuan mereka. Modal sosial menunjuk pada jaringan, norma dan kepercayaan yang berpotensi pada produktivitas masyarakat. Modal sosial akan dapat menghasilkan kepercayaan yang pada gilirannya memiliki nilai ekonomi yang besar dan terukur untuk itu diperlukan model pemanfaatan modal sosial dikaitkan dengan sikap kemandirian para anggota kelompok tani. Untuk itu, yang menjadi rumusan masalah antara lain bagaimana tersusunnya SOP Konservasi lahan sabuk hijau yang dikelola berwawasan lingkungn hidup Bahwa modal sosial tersebut mengacu pada aspek-aspek utama dari organisasi sosial, seperti kepercayaan (trust), norma-norma (norms), dan jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan efisiensi dalam suatu masyarakat (Lubis, 2001). Di masa-masa mendatang sudah waktunya modal sosial di tepian waduk Kedung Ombo ini perlu dianalisa dengan menggunakan rantai nilai. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian masyarakat antara lain: tanggung jawab, mandiri, pengalaman praktis, otonomi dan kemampuan memecahkan masalah. Keluaran dalam kajian ini: sebuah paper tentang komunikasi sosial dan penindasan sosial yang dimuat di jurnal ilmiah di Journal of Society and Communication Vol. 2016 ISSN diterbitkan di Amerika Serikat.

Kata Kunci: kemandirian, modal sosial, lahan sabuk hijau dan rantai nilai

Strategi Pengembangan Kain Celup Ikat (Jumputan, Pelangi dan Tritik) sebagai Upaya Pelestarian Budaya melalui Industri Kreatif di Yogyakarta dan Sekitarnya

Ketua : Dr. Ir. Mohammad Harisudin, M.Si
Skim : Penelitian Strategis Nasional (Stranas) Tahun ke-2
Sumber Dana : DIKTI
Lama Penelitian : 2 Tahun

ABSTRAK

Kebutuhan masyarakat terhadap kain serupa batik, tritik, jumputan dan pelangi, menunjukkan peningkatan yang cukup berarti. Dewasa ini, kain-kain ini sering dipergunakan sebagai kain kaos, tas, baju, maupun kaos kaki. Kain serupa batik ini banyak diproduksi di Yogyakarta dan Solo. Desain dan model kain celup ikat memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri sehingga mempunyai selling point yang relatif menarik. Efisiensi di semua aspek diperlukan untuk menghadapi persaingan dengan negara lain. Hal ini mencakup pengadaan bahan baku, produksi sampai pemasaran, dengan demikian dapat dihasilkan produk-produk yang berkualitas dengan harga bersaing. Pengrajin celup ikat di Yogyakarta dan Solo perlu meningkatkan kualitas dan menyusun strategi yang tepat untuk kesuksesan celup ikat di pasar domestic maupun internasional. kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan desain baru corak kain celup ikat yang diminati masyarakat modern dan disesuaikan dengan tren fashion masa kini dan menciptakan inovasi teknik produksi desain baru corak kain celup ikat (tritik, jumputan dan pelangi) di Yogyakarta dan sekitarnya guna meningkatkan kualitas kain celup ikat dalam persaingan dengan produk tekstil lainnya di pasar domestik maupun internasional. kegiatan dilakukan di Yogya dan sekitarnya.

Penggunaan Bolus Sapi Perah sebagai Sumber Mikroba dalam Fermentasi Limbah Pertanian dan Suplementasi Molases Blok untuk Pakan Ternak di Kab Wonogiri

ibm-11

ibm-2

Ketua : Prof. Dr. Ir. Sudibya, MS
Skim : Iptek bagi Masyarakat (IbM)
Sumber Dana : PNBP UNS
Lama Penelitian : 1 Tahun

RINGKASAN

Penggunaan limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia mempunyai keterbatasan yaitu adanya kandungan serat kasar yang tinggi sehingga daya cernanya rendah. Agar penggunaan dari limbah pertanian dapat ditingkatkan nilai daya cernanya (nilai nutriennya) sehingga perlu adanya metode pengolahan antara lain dengan fermentasi.

Melalui fermentasi maka limbah pertanian dapat ditingkatkan kualitas dan daya cernanya. Selanjutnya biasanya peternakan rakyat dalam memberikan pakan khususnya bahan baku konsentrat tidak selalu rutin artinya diberikan pada waktu musim panen padi saja, sehingga kecukupan nutrient dari ternak belum memenuhi baik secara kualitas dan kuantitasnya. Oleh karena itu perlu pakan tambahan dalam hal ini urea molasses blok.

Tujuan pertama dari kegiatan ini yaitu: a) memproduksi fermentasi dari limbah   pertanian yang baik, b) menumbuhkan budaya penerapan Ipteks hasil penelitian perguruan tinggi secara komersial, c) menumbuhkan usaha kecil menengah, d) meningkatkan sumber daya manusia, e) menciptakan lapangan kerja, f) memanfaatkan potensi sumber daya daerah khususnya limbah pertanian dan g) menumbuhkan kegiatan usaha yang income generating. Tujuan yang kedua dari kegiatan ini yaitu ingin menambahkan molasses blok untuk meningkatkan nilai nutrien sehingga daya cerna dari konsentrat ternak meningkat, akibat lebih lanjut pertambahan bobot badan ternak akan meningkat.

Target luaran dari kegiatan ini adalah: a) tercapainya peternak yang mampu melakukanpengelolaan pakan dengan silase dan fermentasi dari limbah pertanian  sebagai teknologi tepat guna, b) ketersediaan pakan sepanjang tahun dapat terpenuhi, sehingga peternak tidak kesulitan dalam pemberian pakan ternak. Selain itu suplementasi molasses blok akan meningkatkan nilai nutrient bahan dan nilai kecernaanya bertambah akibat lebih lanjut   produktifitas ternak meningkat terutama bobot badan sapi dan kambing, sehingga pendapatan peternak bertambah.

Manfaat dari kegiatan tersebut adalah menambah pengetahuan kepada peternak dalam bidang bahan pakan terutama hijauan, meningkatkan keterampilan peternak dalam mengolah limbah pertanian dengan teknik fermentasi menjadi bahan baku hijauan yang siap keberadaannya sepanjang tahun dan dapat meningkatkan nilai nutriennya serta suplementasi molasses blok dapat meningkatkan nilai nutrient konsentrat.

Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah ceramah, percontohan dan evaluasi kegiatan. Khalayak sasaran yang strategis adalah kelompok ternak sapi potong dan ternak kambing.

Lokasi kegiatan adalah di kelompok ternak “Ngudi Hasil” di Desa Jendi Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri dan kelompok ternak kambing “TirtaSari” Desa Bakalan Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri.Beberapa institusi yang terlibat antara lain Dinas Peternakan Kabupaten Wonogiri, Universitas Sebelas Maret serta Pemerintah Desa Jendi Kecamatan Selogiri dan Desa Bakalan Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri.

Sebagai kerangka berfikir untuk memecahkan masalah adalah diperlukan adanya pendekatan dengan masyarakat setempat agar terjadi interaksi sosial. Pendekatan tersebut menggunakan sistem instruksional dalam bentuk penyuluhan dan percontohan. Adanya dan interaksi sosial tersebut diharapkan tumbuh pengertian yang memberikan manfaat bagi masyarakat tersebut. Adapun yang menjadi khalayak sasaran adalah masyarakat peternak sapi potong sebanyak 32 orang di wilayah Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri termasuk para ketua kelompok, anggota kelompok dan pamong ternak dan 28 orang di wilayah Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program Ipteks Bagi Masyarakat (IbM) adalah metode penyuluhan dan percontohan pembuatan  fermentasi dari limbah pertanian dan suplementasi molasses blok.

Berdasarkan hasil survei dari tim kegiatan program IbM telah dilaksanakan di Desa Jendi Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri dan Desa Bakalan Kecamatan Purwantoro.  Seluruh rangkaian kegiatan yang dimulai dengan orientasi lapang sampai pada percontohan pembuatan silase dan fermentasi dari limbah pertanian serta suplementasi molasses blok terus evaluasi tahap akhir selesai pada pertengahan bulan September 2016.

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi kepada peternak di Desa Jendi Kecamatan Selogiri dan Desa Bakalan Kecamatan Purwantoro Kabupaten Wonogiri cukup baik, dibuktikan bahwa sekitar 85 persen peserta memberikan respon yang antusias untuk menindaklanjuti materi yang telah disampaikan selama kegiatan berlangsung.

Berdasarkan pelaksanaan dan evaluasi hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa delapan puluh lima (85) persen peserta dapat menyerap dan melakukan kembali pembuatan silase dan fermentasi dari limbah pertanian sebagai pakan ternak sapi potong serta suplementasi molasses blok sebagai pengganti konsentrat.  Semua peserta sadar akan pentingnya pola pakan sepanjang tahun yang berkesinambungan dengan memanfaatkan limbah pertanian. Namun ada diantara peserta yang kurang mampu meluangkan waktunya untuk membuat silase dan fermentasi limbah pertanian dengan bolus ternak ruminansia dan suplementasi molasses blok untuk mengganti konsentrat secara berkesinambungan.

Disarankan perlunya evaluasi yang kontinyu untuk menindaklanjuti kegiatan tersebut yaitu mengenai perubahan sikap peternak dan produktivitas ternaknya, sehingga setiap materi yang disampaikan kepada peternak mampu diserap dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Kata kunci: bolus sapi perah, fermentasi limbah pertanian dan molasses blok

Pengaruh Nilai Modal Sosial bagi Kelompok Tani Sabuk Hijau di Tepian Waduk Kedung Ombo

PENGARUH NILAI EKONOMI MODAL SOSIAL BAGI KELOMPOK TANI SABUK HIJAU DI TEPIAN WADUK KEDUNG OMBO TERHADAP SIKAP KEMANDIRIANNYA DALAM MENGELOLA LAHAN SABUK HIJAU, merupakan penelitian Unggulan Perguruan Tinggi Tahun 2015 yang diraih oleh Puslitdesbangda LPPM UNS dengan sumber dana dari DIKTI. Penelitian ini diketuai oleh Dr. Sutopo, MS dengan anggotanya yaitu Prof. Dr. Ir. Supriyono, MS.

Dalam sejarah pembangunan bendungan-bendungan besar di Indonesia, waduk Kedung Ombo dapat dikatakan yang paling popular dan banyak menarik perhatian dunia. Waduk ini dibangun pada masa Orde Baru yaitu tahun 1985. Kasus yang mencuat saat itu terutama tertuju pada proses ganti rugi dan pemindahan penduduk yang tergusur oleh proyek tersebut. Pada saat itu pemerintah selalu memberi prioritas pembangunan fisik di wilayah itu, seperti jalan beraspal, pembangunan masjid, pasar, puskesmas dan berbagai skala kredit bunga sangat rendah ke wilayah saat itu. Semua berbagai pembangunan fisik dan berbagai kebijakan sosial lainnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah itu.

Dengan berjalannya waktu, ada dua kelompok tani yang sejak dahulu bergerak mengolah lahan sabuk hijau dengan rasa kekompakan serta rasa persatuan dan kemitraan dengan masyarakat luar maupun dengan masyarakat di wilayah itu. Untuk itu sangat menarik kalau dilakukan penelitian tentang pengaruh nilai ekonomi modal sosial bagi kelompok tani sabuk hijau di tepian waduk Kedung Ombo terhadap sikap kemandiriannya dalam mengelola lahan sabuk hijau.

Kesimpulan dalam penelitian ini antara lain: (1) Modal sosial telah membawa komunitas petani mampu mengendalikan modal lingkungan, modal fisik, modal ekonomi, modal manusia, modal politik dan modal informasi yang ada; dan (2) Kesadaran sebagai bagian dari kehidupan bersama, modal sosial yang ada telah menjadi dasar pemantapan keterorganisasian di tingkat komunitas petani lahan sabuk hijau di seluruh kelompok tani lahan di kawasan tepian waduk Kedung Ombo. Dan adapun saran-saran yang disampaikan dalam penelitian ini adalah: (1) Dukungan pemerintah berupa bantuan penyelenggaraan usahatani berikut mekanisme yang telah berkembang diperlukan untuk menjaga dan melanggengkan modal sosial petani lahan pasir pantai; dan (2) Masyarakat perlu terus mengembangkan dan mensosialisasikan modal komunitas yang telah terbentuk untuk generasi penerus agar tidak terjadi keterputusan mekanisme modal sosial yang telah ada (-Desi-).

IbM Kelompok Usaha Pengolahan Ikan Nila melalui Diversifikasi Produk dan Pemasaran

IbM Kelompok Usaha Pengolahan Ikan Nila melalui Diversifikasi Produk dan Pemasaran di Sidowayah Kabupaten Klaten - merupakan pengabdian masyarakat program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dengan sumber dana dari Dikti. Pengabdian masyarakat ini diketuai oleh Dwi Prasetyani, SE, M.Si (FE UNS) dan beranggotakan satu orang yaitu Istijabatul Aliyah, ST, MT (FT UNS). Lokasi IbM berada di Kelurahan Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.

Tujuan dilaksanakannya IbM ini adalah: (1) meningkatkan produk melalui diversifikasi produk dan peningkatan ketrampilan UKM usaha pengolahan ikan nila di Sidowayah Kabupaten Klaten; (2) meningkatkan pemasaran dan penjualan secara online dan offline untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan pendapatan; dan (3) meningkatkan manajemen pemasaran secara profesional.

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat ini dengan: (1) introduksi/ pengenalan bermacam-macam produk olahan ikan nila melalui pelatihan mengembangkan produk dan packaging yang semuanya mendukung ke arah peningkatan ketrampilan UKM usaha pengolahan ikan nila, dengan demikian akan menghasilkan produk yang memiliki daya saing tinggi; (2) pembuatan dan penataan layout album produk olahan ikan nila sebagai data based informasi produk terbaru untuk pemasaran, baik secara online maupun offline; dan (3) pengembangan dan pelatihan manajemen pembukuan yang sesuai untuk pemasaran secara online dan offline.

Hasil jangka pendek yang ditargetkan dari pengabdian masyarakat ini adalah: (1) keanekaragaman produk dan packaging serta peningkatan ketrampilan UKM usaha pengolahan ikan nila; (2) album produk olahan ikan nila sebagai data based informasi produk terbaru untuk pemasaran baik secara online maupun offline; dan (3) manajemen pembukuan yang sesuai untuk pemasaran secara online dan offline. Dalam jangka panjang, program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan UKM usaha pengolahan ikan nila secara mandiri dan masyarakat Kabupaten Klaten secara umum, serta pengembangan potensi ikan nila di Kabupaten Klaten.