• Cougar

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Lions

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Snowalker

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Howling

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

  • Sunbathing

    puslitdesbangda

    Pusat Penelitian Pedesaan dan Pengembangan Daerah (PUSLITDESBANGDA)

Pengaruh Nilai Ekonomi Modal Sosial bagi Kelompok Tani Sabuk Hijau di Tepian Waduk Kedung Ombo terhadap Sikap Kemandiriannya dalam Mengelola Lahan Sabuk Hijau

p_20160521_114739-copy1 p_20160521_114920-copy
Ketua : Dr. Sutopo, MS
Skim : Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT) Tahun ke-2
Sumber Dana : DIKTI
Lama Penelitian : 2 Tahun

ABSTRAK

Pengelolaan sabuk hijau di sekitar kawasan waduk berdasarkan suatu pemikiran bahwapengembangan suatu daerah merupakan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidupagar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat dengan tetap memperhatikan keserasian, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Usaha ke arah itu didasarkan kepada suatu wawasan wilayah yang berorientasi pada pengembangan potensi, mempertimbangkan kemampuan aparatur pemerintah dan lembaga kemasyarakatan yang ada, serta menumbuhkan peranserta masyarakat dalam pembangunan di berbagai sektor.

Sejak dahulu sampai saat ini sabuk hijau di sekitar Waduk Kedung Ombo itu telah dikelola oleh kelompok-kelompok tani pengelola sabuk hijau, yang tentu harus didampingi oleh para penyuluh pertanian, dan dari DPU serta LSM dan kalangan perguruan tinggi Pengelolaan sabuk hijau di sekitar kawasan waduk agar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat dengan tetap memperhatikan keserasian, keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Untuk tercapainya pembangunan waduk tersebut, diperlukan peranserta masyarakat yang tinggi dan berkelanjutan khususnya masyarakat di sekitar, yaitu masyarakat yang tinggal di dataran yang lebih tinggi di lingkungan waduk. Oleh pemerintah daerah dan para stakeholder pengelola waduk tersebut akhirnya membentuk kelompok tani pengelola waduk. Mengingat sejarah penggenangan waduk Kedung Ombo banyak masalah, akhirnya pemerintah daerah dan berbagai pihak banyak yang membantu sarana dan prasarana, sehingga para anggota kelompok tani tersebut seperti manja dalam mengelola lahan sabuk hijau. Namun ada kecenderungan kegiatan ekonomi para kelompok tani saat ini belum banyak mengalami perubahan utamanya dalam kesejahteraannya. Salah satu potensi sosial budaya tersebut adalah modal sosial. Secara sederhana modal sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk mengorganisir diri sendiri dalam memperjuangkan tujuan mereka. Modal sosial menunjuk pada jaringan, norma dan kepercayaan yang berpotensi pada produktivitas masyarakat. Modal sosial akan dapat menghasilkan kepercayaan yang pada gilirannya memiliki nilai ekonomi yang besar dan terukur untuk itu diperlukan model pemanfaatan modal sosial dikaitkan dengan sikap kemandirian para anggota kelompok tani. Untuk itu, yang menjadi rumusan masalah antara lain bagaimana tersusunnya SOP Konservasi lahan sabuk hijau yang dikelola berwawasan lingkungn hidup Bahwa modal sosial tersebut mengacu pada aspek-aspek utama dari organisasi sosial, seperti kepercayaan (trust), norma-norma (norms), dan jaringan-jaringan (networks) yang dapat meningkatkan efisiensi dalam suatu masyarakat (Lubis, 2001). Di masa-masa mendatang sudah waktunya modal sosial di tepian waduk Kedung Ombo ini perlu dianalisa dengan menggunakan rantai nilai. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian masyarakat antara lain: tanggung jawab, mandiri, pengalaman praktis, otonomi dan kemampuan memecahkan masalah. Keluaran dalam kajian ini: sebuah paper tentang komunikasi sosial dan penindasan sosial yang dimuat di jurnal ilmiah di Journal of Society and Communication Vol. 2016 ISSN diterbitkan di Amerika Serikat.

Kata Kunci: kemandirian, modal sosial, lahan sabuk hijau dan rantai nilai